Tampilkan postingan dengan label SMT 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMT 6. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Language, Speech and Communication


A2. Bahasa, ujaran dan Komunikasi
Pada bagian ini dibahas apakah ujaran itu khusus milik manusia atau spesies tertentu saja. Maka harus dipahami terlebih dahulu apa itu bahasa, ujaran dan komunikasi.
Dimulai dari Komunikasi, komunikasi adalah istilah yang mencakup segala bentuk pertukaran informasi antar dua individu. Salah satu tipenya adalah bahasa, yang lainnya adalah benda sepeti rambu-rambu lalu lintas, tanda-tanda penunjuk jalan, gerakan tangan, ekspresi, bahasa tubuh, anggukan, senyuman dan elemen paralinguistic lainnya. Namun adapula elemen non-linguistik yang dapat digunakan untuk berkomunikasi, misalnya batuk, teriakan, helaan nafas dan lain sebagainya. Selanjutnya ada Bahasa, untuk membedakan bahasa dari tipe komunikasi lainnya, ada empat karakteristik khusus bahasa, yaitu:

  1. 1.       Bahasa itu voluntary; tergantung pada individu penggunanya.
  2. 2.       Bahasa itu simbolik; tidak ada kaitan khusus antara bahasa dengan benda atau sesuatu yang dirujuknya.
  3. 3.       Bahasa itu sistematis; kata-kata itu bekerja dalam sebuah set khusus yang menentukan makna masing-masing.
  4. 4.       Bahasa beroperasi dalam dua model yang berbeda; ujaran dan tulisan.
  5. Selanjutnya ujaran, ujaran bisa bercirikan dengan adanya vokalisasi. Namun bukan hanya sekedar “bersuara”, melainkan ada dua factor yang menentukan pengguna bahasa dapat berujar, yakni:
  6. 1.       Bentuk, ukuran dan posisi articulator yang dimiliki.
  7. 2.       Kemampuan untuk bernafas dan menghasilkan bunyi dalam waktu yang bersamaan.
Ujaran juga mencakup komunikasi pesan, namun ada dua tipe ujaran yang mungkin dapat kita anggap “kurang” berarti dari yang lain, yakni:
1.       Ekspletive; misalnya Oh! Ow! Ouch!
2.       Phatic utterances; misalnya Nice day! atau All right? yang tidak terlalu penting untuk direspon dan tidak berarti banyak dalam ujaran; biasanya hanya untuk menjaga ujaran saja.
B2. Komunikasi Hewan
Design features
Untuk dapat memastikan apakah hewan memiliki bahasa atau tidak, perlu adanya ketentuan atau karakteristik pasti dari yang disebut bahasa. Linguis Charles Hockett (1963) menghasilkan daftar 18 fitur desain ujaran manusia yang paling penting yang telah di grupkan menjadi beberapa grup. Fitur desain tersebut adalah sebagai berikut:
Channel

  1. 1.       Menggunakan vocal-auditory channel
  2. 2.       Interchangebility
  3. 3.       complete feedback
Semantic Features

  1. 4.       Semanticity
  2. 5.       Arbitariness
  3. 6.       Discreteneness
  4. 7.       Displacement
Learning

  1. 8.       Cultural transmition
  2. 9.       Learnabitity
Structure

  1. 10.   Creatiity
  2. 11.   Duality of patterning
  3. 12.   structure dependence
Use             

  1. 13.   Control
  2. 14.   Specialisation
  3. 15.   Spontaneous Usage
  4. 16.   Turn Taking
  5. 17.   Prevarication
  6. 18.   Reflectiveness
Komunikasi Hewan
berikut beberapa komunikasi hewan yang menyerupai bahasa:

  1. 1.       Burung beo yang bisa mengikuti ujaran manusia; feature 1,4,6,8 dan 10
  2. 2.       Lumba-lumba berkomunikasi dibawah air yang disebut system “Click”; feature 1,2,4,13 dan 14
  3. 3.       Lebah pekerja menampilkan tarian ritual untuk menunjukan sumber “nectar” pada kawanannya; feature 1,2,5,7,8,10,13,14 dan 16.


Bersambung....








Baca Selengkapnya

Selasa, 25 Februari 2014

Chapter 11 : Interactive Language Teaching 1: Initiating Interaction

Baik teman-temin, Kali ini saya akan sedikit berkisah tentang yang baru saya baca. ^_^

Dimulai dari memasuki kelas baru, apa yang akan dilalukan untuk memulai interaksi? Sebagai orang baru, seorang guru tidak seharusnya langsung memberi materi dan menjelaskan panjang lebar terhadap siswanya; itu tidak interaktif. Oleh sebab itu, di kelas pertama, guru atau dosen kita hanya akan mengobrol tentang silabus atau hanya perkenalan saja, dengan harapan akan terjalin komunikasi yang lebih baik antara guru dan siswa sehingga akan tercipta interaksi di pertemuan selanjutnya.

Nah, Interaksi itu sendiri adalah pertukaran pikiran, perasaan, ide-ide yang colaboratif antara dua orang atau lebih. Ada pun yang disebut prinsip-prinsip interaktif adalah sebagai berikut:
  1.  Automaticity; prinsip ini menyatakan bahwa dalam menangkap atau mencerna bahasa, otak itu bekerja secara otomatis atau spontan, misalnya pada level anak-anak SD, sehingga tidak perlu ada penjelasan teoritis atau detail dari bahasa yang di ajarkan.
  2. Intrinsik motivation; Prinsip ini menyatakan bahwa dalam proses belajar itu diperlukan motivasi yang datang dari diri sendiri agar pembelajarannya berjalan baik.
  3. Strategic investment; Prinsip ini menyatakan bahwa diperlukan sebuah pola piker bahwa setiap pelajaran yang didapat itu adalah sebuah investasi untuk mempelajari atau mengembangkan pelajaran yang lain.
  4. Risk-taking; Prinsip ini menyatakan bahwa diperlukan keberanian untuk mengambil resiko salah dalam proses belajar, sehingga tidak perlu menunggu intruksi atau jawaban benar dulu untuk belajar.
  5. The language culture connection; Prinsip ini menyatakan bahwa kebudayaan itu berpengaruh terhadap pembicaraan seperti halnya dalam penulisan, budaya berpengaruh dalam menciptakan nuansa tertentu.
  6. Interlanguage; Prinsip ini menyatakan bahwa dalam mempelajari bahasa asing pasti ada kesalahan-kesalahan, dan yang diperlukan adalah feedback dari pengajar.
  7. Communicative competence; Prinsip ini menyatakan bahwa untuk menciptakan interaksi yang baik diperlukan keselarasan antara elemen komunikasi yang satu dengan yang lain.

Selanjutnya, peran pengajar dalam pembelajaran yang interaktif itu tidak hanya satu. Pengajar dapat menjadi peran apapun sesuai dengan kebutuhan pembelajarannya; bisa menjadi orang tua, teman, atau konsultan siswanya, atau lain-lain. Yang harus diperhatikan adalah pengajar harus pintar-pintar membangun atmosfir yang interaktif, mengevaluasi siswa dan menanggapi up-down mereka agar mereka tetap ada dalam mood yang baik.

Dalam hal menciptakan interaksi yang baik, pengajar dapat menggunakan strategi bertanya; jangan sampai kelas didominasi oleh pengajar saja; berikan siswa waktu untuk bicara dan mengeluarkan pendapatnya. Pengajar bisa memulai dengan menanyakan hal-hal yang menjadi minat siswa atau hal-hal yang menarik siswa untuk bicara tanpa harus berpikir akan resiko takut salah, lalu pengajar dapat memberikan kesempatan pada siswanya untuk saling bertukar pendapat satu-sama lain. Jika siswa sudah mulai dapat berinteraksi, pengajar bisa mengarahkan pembicaraan mereka dengan memerhatikan bahasa dan pembahasan yang mereka sedang bicarakan, selanjutnya pengajar bisa memberikan informasi tentang apa yang seharusnya mereka lakukan. Dengan demikian, pengajar akan memberikan siswa kesempatan untuk menemukan sendiri apa yang mereka butuhkan dari apa yang mereka katakana dan dengar sendiri.

Namun, hati-hati dengan pertanyaan yang akan diajukan pada siswa. Dalam hal ini pengajar harus peka akan situasi dan kondisi siswa.

  • Hindari pertanyaan yang akan membuat mereka tersinggung alias “Pundung”; seperti memberikan pertanyaan yang menyudutkan salah satu pihak.
  • Hindari pertanyaan yang abstrak atau membingungkan, misalnya “Apa kalian sangat lebih mengerti atau kurang akan apa yang harus lakukan?”
  • Hindari pertanyaan yang bertele-tele
  • Hindari pertanyaan yang akan menyulitkan siswa karena ingin anda jawab sendiri
  • Hindari pertanyaan acak yang akan membuat pikiran siswa kacau


Selebihnya, masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan untuk memulai pembelajaran yang interaktif, misalnya dengan cara membuat grup-grup kecil dalam proses belajar, tinggal pintar-pintarnya pengajar mengatur waktu dan mood siswa, sehingga siswa dapat selalu ada dalam kondisi ON FIRE ^_^.

Teaching by principles Chap. 11


Baca Selengkapnya

Senin, 24 Februari 2014

Psycholinguistics : What's It?

Psycholinguistics explores the relationship between the human mind and language; insight into the way in which the configuration of the mind shapes communication.

Goals:
  • to establish an understanding of the processes which underlie the system we call language.
  • to examine language as a product of the human mind and thus as evidence of the way in which human beings organise their thoughts and impose patterns upon their experiences.
Psycho linguistic research falls into six major areas, some of which overlap:
  1. Language processing, relating to how our mind works in listening, speaking, reading and writing process.
  2. Language storage and access, relating to how our mind manage our grammatical process.
  3. Comprehension theory, relating to how our mind make us understand a new thing and relates it with the old memories.
  4. Language and the brain, relating to what neurological and muscular activities involvedin speaking and reading process.
  5. Language in exceptional circumstances, relating to how our mind works in ones have speaking or listening problems.
  6. First language acquisition, relating to how the infants get their languange. (Some linguists separate this one in to another dicipline because it is too large if it's in psychology)
John Field. 2003 .Psycholinguistics: Rutledge.
Baca Selengkapnya