Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

CLAUSE AS REPRESENTATION: RELATIONAL PROCESS


Relational processes: processes of being

Jika material proses itu berkaitan dengan proses melakukan sesuatu “doing” dan mental proses tentang merasakan “sensing”, proses relational ini berkaitan dengan “being” dimana  proses dari clausanya itu menjelaskan sesuatu itu apa, seperti apa atau siapa atau bagaimana  misalnya Adri is wise. Dalam clausa Adri is wise , maksud utama dari clausanya adalah “Adri” itu gimana? Adri itu “wise”

Secara garis besar, relational process ini dibagi kedalam beberapa bagian yaitu:
1. Intensive       x adalah a
2. Circumtantial x berada di a
3. Possessive         x mempunyai a
Masing-masing dari ketiga bagian tersebut juga dibagi menjadi dua mode yaitu:
a. Attributive      a adalah atribut dari x
b. Identifying a adalah identitas dari x

Sehingga secara umum, relational process ini dapat diklasifikasika menjadi berikut:
1. Intensive
      a. Attributive
      b. Identifying

2. Possessive
      a. Attributive 
               i. Kepemilikan sebagai Partisipan
               ii. Kepemilikan sebagai Proses 
      b. Identifying
               i. Kepemilikan sebagai partispan
               ii. Kepemilikan sebagai proses 

3. Circumstantial
       a. Attributive
               i. Keterangan (circumstance)  sebagai Atribut
               ii. Keterangan sebagai Proses
       b. Identfing
               i. Keterangan sebagai Partisipan
              ii. Keterangan sebagai Proses


Mungkin pengklasifikasian proses ini tampak rumit dan memusingkan, tapi tenang saja. Kita akan mempelajarinya perlahan-lahan. Apa yang ada dipengklasifikasian ini tidak harus dimengerti saat ini. Untuk saat ini, itu hanya untuk sekedar tahu dan yang kita pelajari sekarang hanya sampai bagaimana kita tahu mana yang temasuk attributive dan mana yang bukan.

Sebelum kita beranjak kepada intensive, possessive dan circumstantial, kita akan sedikit berkenalan lebih dekat dengan dulu dengan istilah –istilah yang ada dalam identifying dan attributive. ^_^

1. Identifying
Dalam proses ini, terdapat istilah identifier dan identified. Identifier adalah partisipan yang mengidentifiksi (menjelaskan)  partisipan yang lain, sedangkan partisipan yang diidentifiksi (dijelaskan) disebut identified. Misalnya,

Tom is the leader

Dalam clausa tersebut, TOM adalah partisipan yang dijelaskan oleh THE LEADER maka TOM adalah identified, dan THE LEADER adalah identifier.

Tom is the leader
Identified                  Identifier

Sebenarnya, setiap subjek clausa biasanya identified, jarang ada identifier muncul sebagai subjek sebuah clausa, kecuali  ketika identifier tersebut menjadi subjek dari sebuah pertanyaan, maksudnya seperti contoh berikut:

Which        is       me?                 The ugly one       is    you
Identified          Identifier            Identifier                    Identified            
Alasan mengapa The ugly one (subjek) menjadi identifier adalah karena dalam pertanyaan Which is me?  ( which one depict me?)  yang menjadi subjek atau topic pembicaraan pertanyaannya adalah “Which” yang dalam  clausa The ugly one  is    you , jawaban dari  which adalah The ugly one yang sebenarnya menjelaskan “you”. Dalam kasus seperti inilah identifier menjadi subjek clausa.

Selain identified dan identifier, ada pula TOKEN dan VALUE.
TOKEN adalah partisipan yang menjadi “bernilai” karena partisipan yang lain dan partisipan yang membuat partisipan lain “bernilai” adalah VALUE.

Misalnya:
Tom is the leader
Rihanna is the singer

Dalam clausa pertama, Tom is the leader mana yang menjadi “nilai” atau “poin penting”? dalam clausa ini kita tidak tahu Tom siapa tanpa ada the leader, bukan? Maka dalam clausa ini yang menjadi poin penting yang membuat partisipan lain menjadi bernilai (VALUE) adalah the leader sedangkan Tom adalah partisipan yang menjad bernilai karena partisipan lain (TOKEN). 
Sekarang kita lihat clausa kedua, Rihanna is the singer, mana yang menjadi “nilai” atau “poin penting”? dalam clausa ini kita sudah mengetahui bagaimana kualitas dan siapa Rihanna tanpa ada the singer, bukan? Rihanna disini menjadi lebih penting dan bernilai dari pada the singer. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Rihanna adalah VALUE dan the singer adalah TOKEN.

Sebagai tambahan, biasanya subjek dari kalimat aktif  adalah token sedangkan subjek dari kalimat pasif adalah Value.

2. Attributive
Dalam bahasan Atributive, kita akan bermain dengan ATTRIBUTE and CARRIER. Carier  adalah partisipan yang berada dalam atau bagian dari sebuah “kelas” tertentu dan partisipan yang menjadi kelas yang dimasuki partisipan lain adalah attribute. Dalam hal ini, attribute tidak memberikan definisi khusus tentang carier, attribute hanya menunjukkan di kelas mana carier itu berada. Misalnya:

Adri is beautiful
Dalam clausa tersebut, Adri hanya bagian dari kelas “beautiful” yang tidak memiliki spesialisasi tertentu yang berarti bahwa masih ada orang yang “beautiful” lain yang ada dalam kelas tersebut. Berbeda dengan:


Adri is the most beautiful one
Dalam clausa tersebut, Adri memiliki spesifikasi khusus yaitu “the most beautiful one” dimana “the most beautiful one” hanya berlaku untuk satu orang, maka dalam hal ini Adri bukan lagi bagian dari kelas “the most beautiful one” melainkan Adri adalah “the most beautiful one” itu sendiri yang berarti “the most beautiful one” itu bukan attribute dari Adri tapi identitas dari Adri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa clausa Adri is the most beautiful one bukan lah clausa attributive melainkan identifying.
Setelah kita mengenal attributive dan identifying, kita akan berkenalan dengan proses intensive, possessive dan circumstantial. 

1. Intensive
Dalam proses ini, hubungan antar partisipannya adalah “kesamaan”, anggap saja ada partisipan A dan B, nah dalam proses ini hubungan antara A dan B itu “A adalah B”.
Contoh:

Tom    is    the leader
A process intensive B
I am       wise
A process intensive B
Sekarang coba kita balik kedua contoh diatas, apakah bisa atau tidak.

The leader is      Tom
B process intensive A
Wise is          me
B process intensive A

Coba kita bahas satu-satu, clausa pertama, The leader is Tom apakah bisa dipahami? Bisa diterima tidak maksudnya? Jawabannya adalah “bisa”, bukan? Sekarang kita beralih ke clausa kedua, Wise is me apakah bisa dipahami? Bisa diterima tidak maksudnya? Jawabannya adalah “tidak”, bukan? 

Nah, untuk clausa pertama, itulah yang dimaksud dengan identifying dalam proses intensive, yakni ketika B memberikan penegasan atau definisi tentang identitas A. Salah satu cara untuk menganalisisnya yaitu dengan cara membolak balik clausa seperti tadi,

Tom is the leader   > The leader is Tom

Sedangkan clausa kedua, itulah yang dimaksud attributive dalam proses intensive, yakni ketika B hanya menjadi atribut dari A saja tanpa memberikan definisi khusus. Salah satu cirinya yaitu ketika clausa dibalik, clausa tersebut akan tidak berterima alias “rancu”,

I am wise              > Wise is me

2. Possessive
Proses ini adalah proses yang berkaitan dengan “kepemilikan”. Ada tiga istilah untuk proses ini, yaitu

Possessor : pemilik
Possessed : yang dimiliki
Possession: kepemilikan

Misalnya : I                 have             a son
                   Possessor     Possession    Possessed

Sama seperti intensive, possessive juga dibagi menjadi attributive dan identifying.

Pssessive Attributive
Dalam bahasan ini, ada clausa yang partisipantnya adalah possession yakni sama-sama barang atau sesuatu yang menunjukkan kepemilikan possessor (possession as participant), dan ada juga yang possessionnya adalah proses dari clausa tersebut (possession as process) contohnya clausa yang memakai “have, has, had, dan belongs to” karena kata-kata tersebut tidak bisa berteriman jika dipasifkan, 

Kita ingat saja bahwa clausa attributive itu tidak bisa di bolak-balik (irreversible). Perlu diketahui bahwa “dibolak – balik” ini juga termasuk dengan cara “dipasifkan”. 

Contoh :
Possession as partisipan

                            The Piano            is               Peter’s
                           Possession       Proses         Possession
                               Carier                               Attribute

Sebenarnya clausa seperti ini bisa saja termasuk identifying tergantung dari mana kita menganalisis. Untuk bahasan ini The piano diartikan bagian dari barang-barang yang dimiliki oleh peter, bukan sebagai pengidentikasi peter’s, jadi The piano adalah carier dan Peter’s adalah attributenya.

Contoh:
                                
                                 I                 have             a son
                             Possessor     Possession Possessed
                              Carier          process          Atribute

Clausa tersebut akan tidak berterima jika di balik atau dipasifkan menjadi a son is had by me walaupun secara gramatikal benar.


Possessive Identifying 

Untuk identifying, ada clausa yang partisipantnya adalah possession yakni sama-sama barang atau sesuatu yang menunjukkan kepemilikan possessor (possession as participant), dan ada juga yang possessionnya adalah proses dari clausa tersebut (possession as process), misalnya clausa yang menggunakan own, deserve, receive, get, acquire atau kata-kata lain yang memiliki makna memiliki.

Contoh
Possession as participant:
                               Peter’s            is              The piano
                           Possession       Proses         Possession
                       Identified/Value                   Identifier/Token
                           The Piano            is              Peter’s
                            Possession       Proses         Possession
                       Identified/token                   Identifier/Value

Untuk kasus ini The piano diartikan sebagai pengidentifikasi dari Peter’s. Oleh sebab itu, clausa seperti ini bergantung pada dari mana kita mengartikan. 

Possession as process:

                              Peter                     owns              The piano
                           Possessor             Possession          Possessed
                      Identified/Token                               Identifier/Value
                           The Piano            is owned by           Peter
                            Possessed             Possession         Possessor
                       Identified/Value                              Identifier/Token





Baca Selengkapnya

Sabtu, 09 Maret 2013

CLAUSE AS REPRESENTATION: PROCESS Material dan Mental


 1.      Proses Material (process of doing)

Proses material adalah proses yang berkaitan dengan “mengerjakan sesuatu” ada yang “dilakukan” oleh participant nya. Nah, partisipan yang melakukan pekerjaan dalam proses ini disebut ACTOR sedangkan partisipan yang dikenai pekerjaan disebut GOAL.
Contoh:                                                                                                                                        

Adri kicked the dog

Siapa yang menendang? Adri. Maka Adri adalah ACTOR
Siapa yang ditendang? The dog. Maka the dog adalah GOAL

The dog was kicked by Adri

Apa yang terjadi? The dog ditendang.
Siapa yang melakukan penendangan itu? Adri.
Dengan demikian Adri adalah ACTOR dan the dog adalah GOAL

Dari contoh diatas, kta mengetahui bahwa baik actor maupun goal dapat menjadi subjek maupun objek. Ketika kalimat adalah aktf, subjek = actor, sebaliknya ketika kalimat adalah pasif, subjek = goal.


   Aktif:

Adri                 kicked                     the dog
Actor               proses: material           Goal      

Pasif:
                           
The dog           was kicked by              Adri
Goal                proses: material           Actor
                                                                                   


2.      Proses Mental (process of sensing)

Proses mental adalah proses yang berkaitan dengan kegatan merasakan namun merasakan disini bukan hanya feeling, namun juga thingking and knowing. Dalam proses merasakan ini, partisipan yang “merasakan” (feeling, thinking and knowing)  disebut SENSER sedangkan yang “dirasakan” (felt, thought and known) disebut PHENOMENON. Phenomenon didalam proses mental tidak harus sebuah entitas (nomina), bisa juga berupa fakta.

Contoh:

I saw you

Siapa yang melihat? I, maka I adalah senser
Apa yang dilihat? You (entity), maka you adalah phenomenon

I saw that you are dating with her

Siapa yang melihat? I, maka  adalah senser
Apa yang dilihat? that you are dating with her (fact) , maka that you are dating with her adalah phenomenon.

        I                       saw                              you
       Senser              proses: Mental               phenomenon (entity)

        I                       saw                              that you are dating with her
       Senser              proses: Mental                Phenomenon (fact)


Dalam pembahasan ini, ada istilah word pairs. Word pairs ini dimaksudkan untuk kata-kata (proses mental) yang berpasangan ketika dalam kalimat aktif dan pasif. Word pairs ada karena dalam proses mental, kalimat aktif dan pasif tidak ditunjukan dengan formula atau bentuknya, seperti:

aktif = S+ V+ O dan Pasif = S+ tobe V3 + O

Contoh:
Kalimat  I enjoy it tidak dipasifkan menjadi it is enjoyed by me, melainkan It delights me

Aktif   :            I                                   enjoy                           it
                        Senser                          Proses: mental             Phenomenon

Pasif    :           It                                 delights                       me
                       Phenomenon                 Proses: mental             Senser


Berbeda dengan proses materal. Proses mental dibagi menjadi tiga yaitu perception, affection dan cognitive.

a.       Perception
Proses yang termasuk kepada proses perception adalah proses yang berhubungan dengan hearing, feeling, seeing, dan sejenisnya.
Misalnya :
                     
        I                       see                               you  
        Senser            Perception               Phenomenon      

        I                       feel                              good            
        Senser            Perception               Phenomenon      



b.      Affection
Proses yang termasuk kedalam proses affection ini lebih berkaitan dengan proses merespon/bereaksi seperti liking, fearing dan sejenisnya.
Misalnya:
                                                                 
        I                    fear                             It                
       Senser            Affection               Phenomenon
                       
        I                   worried                  that I can’t              
       Senser            Affection               Phenomenon

                             

c.       Cognition
Proses yang termasuk kedalam proses ini lebih menikankan kepada thinking, knowing, understanding, believing dan sejenisnya.
Misalnya:

        I                       know                                    
        Senser            Cognition            
                       
        I                       believe             that I can fly          
        Senser            Cognition             Phenomenon


Dari contoh diatas, kita menemukan bahwa dalam proses mental, ada kalanya kalimat terdiri dari senser tanpa phenomenon,

         I                       know                                    
         Senser              proses
         
Selain itu, adapula phenomenon tanpa senser.

         Her every look    bewitches
         Phenomenon      Proses

Dalam kalimat diatas, siapa yang merasakan pesona dari Her every look tidak disebutkan walaupun itu pasti adalah seseorang.
Baca Selengkapnya

CLAUSE AS REPRESENTATION: PENGENALAN

Pada dasarnya, ada tiga komponen dalam proses representasi clausa ini, yaitu Proses, Participants, Circumtances.

1. Proses
    Proses ini ditunjukan oleh verb. Dalam bahasan ini ada 3 proses yang akan kita pelajari yaitu
    1. Proses Material (processes of doing)
    2. Proses Mental (processes of sensing)
    3. Proses Relational (Processes of  being )
a.      Attributive
b.     Identifying

     Selain ketiga proses diatas, masing-masing proses di batasi oleh proses yang lain yakni:
     proses material dan proses mental dibatasi oleh proses behavioral
     proses mental dan proses relatioanal dibatasi oleh proses Verbal
     prosen relational dan proses material dibatasi oleh existential
                                
2. Participants
Setiap proses memiliki participants nya masing-masing yang ditunjukkan oleh Nomina, berikut istilah yang digunakan dalam masing-masing proses:
1.     Proses Material     : Actor dan Goal
2.     Proses Mental      : Senser dan Phenomenon
3.     Proses Relational  :
       a.      Attributive     : Carrier dan Attribute
       b.     Identifying      : Token dan Value
4.     Behavioral            : Behaver
5.     Verbal                  : Sayer , Target/receiver dan recipient
6.     Existential             : Existent

Berkaitan dengan participant, akan ditemukan pula istilah-istilah berikut:
1.     Medium
2.     Initiator
3.     Agent
4.     Beneficiary
5.     Range

3. Circumtances
Circumtances ini lebh mirip dengan Keterangan dalam tata bahasa Indonesia, ditunjukkan dengan adanya preposisi atau adverbial. Circumtances ini dibagi kedalam elemen-elemen sebagai berikut:
1.     Extent dan location
        a.     Extent     : duration dan distance
        b.     Location  : Place and time
2.     Manner
       a.     Means
       b.     Quality
       c.      Comparison
3.     Cause
       a.     Reason
       b.     Purpose
       c.      Behalf
4.     Accompaniment
      a.     Commitative
      b.     Additive
5.     Matter
6.     Role
7.     Angle
Baca Selengkapnya

Jumat, 08 Maret 2013

Personal Identity


Masa-masa "mahasiswa" ini adalah masa yang "crucial". masa disaat seseorang sudah mulai memikirkan "identitasnya" yang akan (setidaknya) menentukan masa depan. Berhasil ataupun tidaknya sebuah "identitas" itu dibangun, sebenarnya itu ada dari persepsi masyarakat sekitar. Walau begitu, Identitas mash bisa dibangun asalkan komitmen untuk mendabatkan "identitas" tersebut kuat. Sekalipun "identitas" yang telah lama dibangun itu sempat kandas (bahkan hingga berkeping-keping), masalah apakah "identitas" itu akan tetap bisa tercapai ataukah tidak hanya ada pada pilihan pelakunya sendiri; memilih maju terus atau berhenti sampai dititik itu.


Personal identity itu sebenarnya adalah identitas atau ciri yang melekat pada diri seseorang. Identitas ini bisa dicirikan oleh bentuk tubuh seperti jari, mata, kaki, atau lainnya, dan juga oleh sikap atau sifat. Menurut Alan S. Waterman Identitas itu konsep terbuka. berdasar pada pernyataan tersebut maka identitas kita akan merujuk kepada kategori kategori. Kategori-kategori ini bekerja seperti kotak atau folder tempat kita berada, ini dimaksudkan untuk menspesifikasikan diri kita. 

Didalam bahasan ini ada yang di sebut preposisi. Berdasarkan pengertian preposisi dalam mata kuliah Logika, preposisi adalah bagian terkecil dari pemikiran yang mengandung makna sempurna. Menurut Alas S. Waterman, preposisi ini harus bersifat progresif yakni ada pergerakan didalamnya. Maksud pergerakan disini adalah bahwa preposisi tidak statis, sewaktu-waktu bisa berubah bergantung pada tiga hal:

1. Waktu atau Usia
    Misalnya Adri ketika SD adalah anak manja yang nakal dan banyak omong. Ketika meranjak kuliah, Adri sudah bukan anak manja yang nakal dan bnayak omong lagi melainkan seorang yang bijaksana dan sangat disiplin. Nah "anak manja yang nakal dan banyak omong" ini berubah menjadi "seorang yang bijaksana dan sangat disiplin" seiring dengan waktu atau usia Adri. maka keduanya itu bisa disebut sebagai preposisi.

2. Adanya peningkatan Identitas dan atau perluasan komitmen
Misalnya,pada  masa masa SMP dimana seseorang ada dalam masa "alayer" atau masa transisi, identitas yang Adri miliki adalah "anak smp atau anak alay" sedangkan pada masa Kuliah , Adri itu ada di masa seseorang mencari identitas atau label dirinya yang sadar ataupun tidak sadar masa depan Adri ini ada di masa ini, Nah identitas Adri mengalami peningkatan menjadi "Mahasiswa atau wanita dewasa" .  Nah peningkatan identitas inilah yang mencirikan preposisinya.

3. Kontruksi identitas itu bergantung pada timing
seperti contoh sebelumnya, masing-masing identitas berubah seiring berjalannya waktu, bukan? nah kontruksi identitaspun begitu. 

Kontruksi identitas ini maksudnya adalah pembangunan identitas itu sendiri. Seseorang jika ingin memiliki identitas baik, misalnya pintar, solehah, dermawan dan lain-lain, itu harus dibangun dulu (harus usaha) dan ingat juga bahwa selalu ada pembanding. Misalnya Adri yang ber IPK 3,55 ingin memiliki identitas "paling pintar", Adri ini harus usaha agar bisa menjadi seseorang yang diakui sebagai anak yang paling pintar. Dalam usahanya ini, adri harus melihat pembanding nya (pengukur) , misalnya dengan anak yang memiliki IPK ter tinggi dikampus, 3,80. Nah untuk mendapatkan identitas "paling pintar" ini, minimal Adri harus meningkatkan IPKnya sampai 3,81 agar di akui sebagai "paling pintar". 

Dalam bahasan personal identity ini ada beberapa status yang berhubungan dengan kontruksi identitas.

1. Status Achievement 
pada status ini pelakunya sudah merasa yakin (PD) dengan identitas kita, akrab dalam aktivitas sosial, memiliki rasa puas dan juga tidak memiliki masalah kejiwaan (maksud kejiwaan itu rasa nyaman terhadap identitas yang ada dalam dirinya). contoh seseorang  yang sudah dalam status Achievement, pelaku diperankan oleh Adri,

Nona : "Kamu itu anak pinter ya?"
Adri   : "O, iya dong. ^_^" 

2. Status Moratorium
Disini, pelakunya punya rasa cemas terhadap identitasnya, dia tidak yakin akan itu, dia juga punya masalah dalam bidang kekuasaan dan kejiwaan. contoh seseorang  yang sudah dalam status Moratorium, pelaku diperankan oleh Adri,:


Nona : "Kamu itu anak pinter ya?"
Adri   : "mm,, pinter gak yaaaah. 0_0" 

3. Status diffusi
pada status ini, pelaku sama sekali tidak yakin dan tidak percaya diri akan sebuah identitas. contoh seseorang  yang sudah dalam status diffusi, pelaku diperankan oleh Adri,:



Nona : "Kamu itu anak pinter ya?"
Adri   : "lah, pinter dari hongkong! langganan remidial gini?!  /-~-\" 

nah itu beberapa status yang berhubungan dengan kkontruksi identitas, sebenarnya masih ada status foreclosure, namun saya belum paham sepenuhnya. Ketika saya paham, sesegera mungkin akan saya bahas. ^_^

Jika ada yang ingin ditanyakan, kurang dipahami atau ada yang perlu dikoreksi, silakan komen saja. Terimakasih, Semoga bermanfaat ya....



Referensi:
Waterman,s, Alam.Commentarry- Identity, the identity statuses, and identity status development: A contemporary Statement




Baca Selengkapnya